BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Permasalahan Pokok Pendidikan
1.
Masalah Pemerataan
Pendidikan
Diharapkan (ideal): “pendidikan
nasional dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga
negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan”.
Kenyataan
(realita): “masih banyak warga negara khususnya warga usia sekolah tidak
tertampung di lembaga pendidikan (sekolah) yang ada.” (Sumber statistik
pendidikan daerah atau nasional).
Permasalahannya
ialah bagaimana sistem pendidikan di kelola sehingga dapat menyediakan
kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga negara memperoleh pendidikan.
Dengan memberikan kesempatan yang
seluas-luasnya itu diharapkan pendidikan akan semakin merata, karena merata dalam
arti yang sesungguhnya tidak mungkin dicapai. Hal ini antara lain disebabkan
peraturan perundang-undangan tentang wajib belajar (wajar) tidak diikuti dengan
sangsi bagi yang tidak mengikutinya, karena sistem pendidikan itu sendiri belum
memungkinkan untuk itu.
2.
Masalah Mutu
Pendidikan
Mutu pendidikan umumnya dilihat
dari hasil (output) pendidikan itu sendiri. Kriteria untuk hasil ini adalah
kadar ketercapaian tujuan pendidikan itu sendiri. Kadar ketercapaian tujuan ini
mulai dapat dilihat dari hierarki tujuan terkecil yaitu tujuan pembelajaran
khusus (TPK) indikator pencapaian hasil belajar Kualitas ketercapaian TPK
indikator selanjutnya dapat menggambarkan ketercapaian tujuan pembelajaran umum
(TPU) Kompetensi Dasar. Demikian secara hierarki, sehingga dapat diketahui pula
tujuan-tujuan yang lebih jauh/tinggi yaitu tujuan nasional pendidikan.
Tujuan-tujuan ini dibuat/diterapkan sebelum proses pendidikan dimulai.
Kadar
ketercapaian tujuan tersebut tergantung pada unit/lembaga yang menyelenggarakan
pendidikan tersebut. Unit terkecil yang akan menentukan tersebut ialah guru
mata pelajaran (dosen mata kuliah) yang bersangkutan.
Memang
kadar ketercapaian tujuan tesebut sukar ditetapkan secara eksak (pasti), karena
alat ukur keberhasilan seseorang anak di sekolah belum ada yang baku (standar).
Adakalanya sistem penilaian ada yang menggunakan panduan acuan normal (PAN) dan
acuan patokan (PAP). Rambu-rambu kadar keberhasilan (ketercapaian tujuan)
secara umum dapat ditetapkan (ideal) seperti kadar pencapaian tujuan minimal
75% (menurut kurikulum sekolah), indek prestasi (IP) minimal 2,00 untuk program
S1 di Perguruan Tinggi. Walaupun kadar minimal sudah ditetapkan, tetapi pada
akhirnya yang memutuskan nilai/kadar tersebut adalah sipenilai (evalutor)
sendiri.
Keadaan
seperti ini, menyebabkan kita mengalami kesukaran untuk menetapkan kadar mutu
yang sesungguhnya (realita). Oleh sebab itu permasalahan mutu pendidikan sukar
diketahui dalam arti yang sesungguhnya. Apalagi bila sipenentu (evaluator)
dilakukan oleh orang yang berbeda dengan kriteria yang berbeda pula maka gambar
permasalahan mutu ini sesuatu yang misteri. Nilai 8 (pencapaian 80%) pada suatu
sekolah tidak akan sama kadarnya dengan nilai 8 pada sekolah lain. Akan sama
halnya antara rayon pada EBTANDA/UADA atau EBTANAS/UAN. Dengan demikian bisa
terjadi bahwa disuatu sekolah mutu pendidikan tidak dipandang sebagai masalah
karena antara mutu yang real dengan yang ideal dapat diatur. Sementara secara
nasional (menggunakan EBTANAS/UAN) ternyata bermasalah. Tetapi apakah EBTANAS
sudah memberikan gambaran kualitas yang sesungguhnya?
Walaupun
demikian kompleksnya permasalahan ini, secara umum dapat kita katakan bahwa
dilihat dari EBTANAS/UAN mutu pendidikan suatu daerah dapat dikatakan
bermasalah, sememntara daerah lain tidak. Pencapaian yang sama dengan kadar
perolehan yang minimal apalagi diatasnya (100%) maka mutu tidak masalah dan
sebaliknya.
3.
Permasalahan Efisiensi
Dan Efektifitas Pendidikan
a)
Efisiensi
Pendidikan dikatakan efisiensi (ideal) ialah bila penyelenggaraanpendidikan
tersebut hemat waktu, tenaga dan biaya tetapi produktivitas (hasil) optimal.
Pendidikan dikatakan efisiensi bila pendayagunaan sumber budayayang ada (waktu,
tenaga, biaya) tepat sasaran. Kadar efisiensi itu tentu tergantung pada pemberdayaan
sumberdaya tersebut. Bila yang terjadi misalnya tidak hemat (boros) waktu,
biaya dan tenaga tidak berfungsi secara optimal maka kadar efisiensi rendah
(tidak/kurang efisien).
Bagaimana kadar itu dilapangan (realita)? Hal ini
ditentukan oleh keadaan pendayagunaan ketiga kriteria seperti disebutkan
terdahulu. Bila penyelenggaraan pendidikan tidak/kurang memfungsikan teenaga
yang ada, sementara waktu kurang dimanfaatkan sedemekian rupa sehingga banyak
yang terbuang sia-sia, apalagi biaya yang dikeluarkan banyak maka kadar
efisiensi rendah (kurang efisien).
Analisis seperti ini dapat diarahkan pad unsur-unsur
terkecil dari ketiga kriteria tersebut. Misalnya apakah waktu digunakan sesuai
jadwal/rencana, apakah guru mengajar atau dosen memberi kuliah minimal sama
dengan jam wajib mengajar setara dengan pegawai negeri (37 jam/minggu).
Demikian pula analisis dapat dilakukan dari unsur-unsur makro sehingga dapat
diketahui efisiensi secara nasional.
b)
Efektivitas
Pendidikan diakatakan efektif (ideal) ialah bila hasil
yang dicapai sesuai dengan rencana/program yang dibuat sebelumnya (tepat guna).
Bila rencana mengajar (persiapan mengajar) yang dibuat oleh guru atau
silabus/SAP yang dibuat dosen sebelum mengajar/memberi kuliah terlaksana secara
utuh dengan sempurna, maka pelaksanaan perkuliahan tersebut dikatakan efektif.
Sempurna disini meliputi semua komponen perencanaan seperti tujuan,
materi/bahan, strategi, dan evaluasi.
Sebaliknya, dikatakan kurang efektif bils komponen-komponen
rencana tidak terlaksana dengan sempurna, misalnya tujuan tidak tercapai semua,
materi tidak tersajikan semua, strategi belajar mengajar tidak tepat, evaluasi
tidak dilakukan sesuai rencana.
4.
Masalah Relevansi
Pendidikan
Pendidikan dikatakan relevan
(yang ideal) ialah bila sistem pendidikan dapat menghasilkan outpu (keluaran)
yang sesuai dengan kebutuhan penbangunan. Kesesusaian (relevansi) tersebut
meliputi/mencakup kuantitas (jumlah) ataupun kualitas (mutu) output tersebut.
Selanjutnya kesesuaian tersebut hendaknya mempunyai tingkat keterkaitan (link)
dan kesepadanan (match).
Pendidikan dikatakan tidak atau
kurang relevan ialah bila tingkat kesesuaian tesebut tidak ada/kurang. Kadar
permasalahan ditentukan oleh tingkat kesesuaian antara sistem pendidikan dengan
kebutuhan masyarakat pembangunan tersebut. Bila tingkat kesesuaian tinggi maka
pendidikan dikatakan relevan. Permasalahan akan semakin besar/rumit bila
tingkat kesesuaian itu rendah.
2.2
Keterkaitan Antara Jenis Masalah Pendidikan Yang Satu
Dengan Yang Lain
Permasalahan pokok seperti dipaparkan pada sebelumnya ,
sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Dalam kenyataannya dilapangan masalah
tersebut saling kait. Mungkin pada suatu situasi/kondisi muncul secara serempak
meskipun dalam bobot yang berbeda. Pada
kondisi tertentu misalnya kita (negara) ingin pendidikan itu merata, Tapi pada
saat ini mutu terabaikan (bermasalah), Efisiensi akan bermasalah Demikian pula
relevansi pendidikan akan mengalami penurunan (bermasalah).
Antara permasalahan pokok
tersebut saling kait. Suatu permasalahan ditanggulangi akan menimbulkan
pembesaran masalah pada aspek yang lain.
Kondisi negara akan menentukan besar-kecilnya permasalahan. Keadaan
seperti ini, mengharuskan negara memusatkan perhatian pada program pendidikan
tertentu. Misalnya pada periode tertentu, memusatkan perhatian pada pemerataan
pendidikan, kemudian pada periode berikutnya pada meningkatan mutu. Bila negara
sudah maju (developed bukan developing apalagi under developing country), maka pada kondisi ini permasalahan pendidikan
tidak akan ada lagi. Jika terdapat juga permasalahannya tidak akan berat/besar
lagi.
2.3
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah
Pendidikan
Permasalahan pokok yang telah dibicarakan pada bagian
sebelumnya merupakan masalah yang terjadi dalam bidang pendidikan itu sendiri
(masalah intern). Jika kita menganalisis lebih jauh, maka permasalahan tersebut
sesungguhnya berkaitan langsung/tidak dengan perkembangan yang terjadi di luar
bidang pendidikan itu sendiri. Perkembangan di luar (ekstern) tersebut
merupakan faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan.
Faktor utama yang mempengaruhi berkembangnya masalah
pendidikan diantaranya adalah:
1.
Pengaruh IPTEK dan
Seni
a)
IP (Ilmu Pengetahuan)
Berkembangnya IP
(Science), apakah di bidang sosial, ekonomi, hukum, pertanian dan sebagainya
jelas akan membawa masalah dalam bidang pendidikan misalnya sakja, materi/bahan
pengajaran yang terdapat dalam kurikulum sudah harus diubah/disesuaikan.
b)
TEK (Teknologi)
Perkembangan
teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi
akan menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan
tenaga kerja, sistem pelayanan dan lain-lain akan serba baru. Perkembangan
seperti ini akan menimbulkan masalah dalam sistem pendidikan. Sistem yang ada
mungkin tidak sesuai lagi dengan tuntutan perkembangan, oleh karenanya perlu
ditanggulangi.
c)
S (Seni)
Aktivitas kesenian
mempunyai andil yang cukup besar dalam
membentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan). Secara khusus
kesenian dapat mengembangkan domain/aspek afektif dari peserta didik. Dunia
seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan semakin mendapat tempat dalam
kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini, sudah barang tentu akan menimbulkan
maslah baru dalam bidang pendidikan. Jika seni dikembangkan melalui sistem
pendidikan, maka permasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana
dan prasarana serta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti
sekolah).
2.
Laju Pertumbuhan
Penduduk
Laju pertumbuhan penduduk yang
pesat, akan menyebabkan berkembangnya masalah pendidikan, misalnya masalah
pemerataan. Dengan pertumbuhan penduduk yang pesat maka jumlah anak usia
sekolah akan semakin besar/banyak. Jika daya tampung (misalnya karena wajib
belajar) maka ratio guru siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan
munculnya masalah lain pula. Misalnya bagaimana merencanakan dan menyediakan
sarana pendidikan yang dapat melayani daerah padat (kota) dan daerah terisolir
yang anak usia sekolahnya tidak beberapa orang (jarang).
3.
Aspirasi Masyarakat
Kecenderungan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari
tahun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa pendidikan akan
lebihmenjamin memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap atau akan
meningkatkan status sosial mereka.
Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini
akan mengakibatkan anak-anak (juga remaja dan dewasa) akan menyerbu dan
membanjiri sekolah (lembaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan menimbulkan
berbagai masalah seperti sistem seleksi siswa/mahasiswa baru, ratio guru-siswa,
waktu belajar, permasalahan akan terusberkembang karena saling kait seperti
yang telah dikemukakan sebelumnya.
4.
Keterbelakangan
Budaya dan Sarana Kehidupan
Masyarakat kita yang umumnya
berada di daerah terpencil, yang ekonominya lemah, dan kurang terdidik akan
mengalami keterbelakangan budaya dan sarana kehidupan. Keadaan seperti ini,
sudah jelas akan menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara
lain bagaimana menyadarkan mereka akan keterbelakangan/ketinggalannya bagaimana
cara menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khususnya bagaimana sistem
pendidikan dapat menjangkau dan melibatkan mereka sehingga mereka keluar dari
keterbelakangan tersebut.
2.4
Penanggulangan Permasalahan Pendidikan
Penanggulangan (pemecahan masalah) sebagai akibat
prngaruh ke empat faktor yang telah dikemukakan sebelumnya secara umun adalah
sebagai berikut:
1.
Pendidikan harus senantiasa diperbaharui (direnovasi) sesuai dengan
perkembangan yang terjadi diluar bidang pendidikan itu sendiri. Misalnya
kurikulum harus fleksibel, jika perlu diperbaharui. Kurikulum jangan
mengakibatkan para pelakunya (siswa atau anak didik) selalu tertinggal
dibanding dengan kemajuan IPTEK di luar dunia pendidikan tersebut.
2.
Pendidikan (bersama bidang terkait) berusaha menahan laju pertumbuhan
penduduk atau pendidikan harus mencari sistem baru yang dapat melayani semua
orang yang memerlukan pendidikan.
3.
Aspirasi masyarakat terhadap pendidikan didukung dan didorong terus agar
lebih meningkat lagi. Sementara itu sistem pendidikan dibaharui/dikembangkan
sehingga dapat memenuhi aspirasi tersebut.
4.
Sistem pendidikan meningkatkan peran/fungsinya sebagai pengembangan
kebudayaan diseluruh pelosok tanah air. Sejalan dengan itu pihak lain yang
terkait harus dapat membuka keterisolasian sebagian desa kita dan/atau membuka
sarana kehidupan yang lebih baik.
SUMBER
Tim Dosen FIP UNP. 2008. Pengantar Pendidikan. Padang: FIP UNP
titanium magnetic - Tioga - Titanium Arts
BalasHapusTitanium-Titanium-Arched glass titanium flat iron sculpture on copper-stone pedestal. titanium bicycle stainless steel plate with titanium sheet metal stainless steel titanium connecting rod plate with titanium flat iron steel plate with stainless steel plate.