Selasa, 31 Januari 2023

Pengertian Etika

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.         Pengertian Etika

Kata etika berasal dari bahasa Yunani etos atau ta étika yang berarti kebiasaan (custom) atau adat. Kemudian kata etos maknanya lebih berkembang yaitu: kesusilaan, perasaan batin atau kecendrungan hati dalam malakukan perbuatan. Dalam bahasa Inggris ethics yang berarti standards of right conduct, moral, sedangkan ethical berarti having to do with ethics or morality. Kata etika sering disamakan dengan kata moral. Kata moral berasal dari bahasa Yunani mos yang jamaknya mores dan akhirnya menjadi moral.

Etika adalah kebiasaan (adat) yang berdasarkan pada sesuatu yang melekat dalam kodrat manusia, yaitu kebiasaan yang terikat pada pengertian baik atau buruk dalam tingkah laku manusia. Ethos berarti sikap batin. Tiap orang mempunyai sikap batin yang sesuai dengan norma-norma etik. Nilai mengenai benar atau salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Kata etika dan moral dalam pemakaiannya punya penekanan yang berbeda. Kalangan ilmuwan kata etika mendapat arti yang lebih dalam daripada kata moral. Kata moral sering diartikan terbatas pada kelakuan lahir manusia, sedangkan kata etika tidak hanya diartikan kelakuan lahir saja akan tetapi menyangkut pula norma-norma dan motivasi-motivasi perbuatan seseorang yang lebih dalam.

Beberapa Definisi:

1.    Menurut W. Lilie, etika adalah ilmu pengetahuan yang normatif mengenai kelakuan manusia dalam kehidupan masyarakat.

2.    Menurut Austin Fagothey, etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang praktis mengenai kelakuan benar dan tidak benar yang dilakukan manusia.

Kesimpulan:

1.    Etika adalah ilmu pengetahuan normatif atau bagian dari filsafat moral.

2.    Kelakuan (perbuatan) manusia mengenai benar atau salah, yang baik dan buruk bagi manusia sebagai objeknya.

3.    Yang dapat diterima oleh akal sehat.

4.   

2

 

Dalam kehidupan masyarakat, untuk masyarakat.

B.            Kesadaran Etis

Kesadaran etis atau moral adalah kesadaran tentang diri kita sendiri, dimana kita melihat diri kita sendiri, berhadapan dengan masalah baik-buruk. Manusia membedakan antara yang halal dan haram, yang boleh dan tidak boleh dilakukan, walaupun dapat dilakukan inilah yang membedakan manusia dan hewan.

Manusia sebagai makhluk etis, memiliki kesadaran etis yang tumbuh perlahan-lahan sejalan dengan proses pertumbuhan manusia sejak kecil. Pada pertumbuhan, manusia sudah dapat berpikir dan berkehendak karena datangnya kebenaran tidaklah datang sekaligus. Manusia tumbuh dari pra-moral ke kesadaran moral, sejalan dengan keistimewaan manusia yaitu menyadari eksistensinya, baik eksistensi religius, eksistensi sosial maupun eksistensi kulturalnya, serta eksistensi yang tebuka. Moral adalah ajaran tentang baik dan buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti dan susila.

 

C.           Postulat dalam Etika

Postulat menunjuk kepada sesuatu yang nyata, jelas tanpa dibuktikan, dalil yang dianggap benar tanpa perlu membuktikannya dan tidak bertentangan dengan prinsip kenyataan.

Tiga kebenaran filosofis yang merupakan postulat-postulat dalam etika:

1.    Adanya tuhan (the existence of god)

Tuhan pembuat undang-undang yang absolut. Tidak ada hukum moral yang menentukan apa yang harus kita lakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Aturan-aturan tuhan menuntut kepatuhan secara mutlak.

2.    Kemerdekaan kehendak (the freedom of will)

Apabila kehendak manusia tidak merdeka, manusia tidak dapat memilih antara baik dan buruk, tidak dapat bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan.

3.    Kekekalan Jiwa (the immortality of the soul)

Jika jiwa manusia itu bukan suatu roh, maka tidak ada motif yang cukup buat melakukan hal yang baik dan menghindari yang buruk. Apabila manusia tidak akan mati, untuk apa hidup baik. Maka life efter death haruslah ada.

D.           Unsur-unsur yang Menentukan Moral

1.        Maksud si Pembuat (the end which the agent has a view)

Apabila kita hendak mengerti atau menyelami suatu perbuatan baik, maka harus pertama-tama memeriksa maksud atau tujuan ataupun objek yang dicari karena perbuatan itu, karena kearah sanalah kemauan (will) manusia pertama-tama dipusatkan untuk itu dicari upaya yang selaras.

2.        Daya Upaya yang Digunakan (the means taken)

Daya upaya adalah langkah atau tindakan pertama yang diambil will untuk mencapai maksud. Maksud baik harus dicapai dengan daya upaya atau jalan yang baik pula.

3.        Keadaan Bersangkutan (the cercumstances)

Keadaan bersangkutan mencakup: waktu, tempat, orang yang bersangkutan, cara berbuat dan lain-lain yang menentukan perbuatan konkrit.

 

E.            Moralitas

Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan kemanusiaan (insan), yang berkaitan dengan benar dan salah, baik atau buruk. (... is that quality in human acts by which we call them right or wrong, good or evil)

Moralitas mencakup pengertian baik atau buruknya perbuatan-perbuatan kemanusiaan. Lawan dari moral adalah non-moral, a-moral yang berarti perbuatan tidak bermoral.

Moralitas terdiri dari:

1.        Moralitas Objektif

Moralitas objektif memandang perbuatan semata-mata sebagai sesuatu yang bebas dari sifat disengaja.

2.        Moralitas Subjektif

Moralitas subjektif memandang perbuatan sebagai sesuatau yang dipengaruhi oleh pengetahuan, keinginan, latar belakang, stabilisasi emosi, dan sifat-sifat pribadi.

Moralitas harus didasarkan pada sesuatu yang lebih dalam daripada kebiasaan. Kebiasaan dapat membuat moralitas, tetapi kebiasaan semata-mata tidak dapat mengubah moralitas/menghapus moralitas.

F.            Baik dan Buruk

Hukum etis bahwa manusia berkeyakinan bahwa ia harus berbuat baik dan mengelakkan yang jahat. Kesadaran etis pada hakikatnya tidak hanya sadar akan adanya baik dan buruk, tetapi sadar pula bahwa orang harus berbuat baik dan mengelakkan yang jahat. Kesusilaan juga berhubungan dengan etika yang diartikan mencakup etiket dan etika. Etiket adalah persoalan kepantasan dan kesopanan sedangkan etika adalah persoalan kebaikan.

Tugas etika ialah untuk mengetahui bagaimana orang seharusnya bertindak secara etis semua kegiatan harus dipertanggung jawabkan. Tanggung jawab ialah keyakinan, bahwa tindakannya itu baik.

Ukuran Baik-Buruk:

1.        Hedonisme

Ukuran tindakan baik ialah hedone yang berarti kenikmatan dan kepuasan rasa. Puas dan bahagia dalam hedonisme disamakan. Ukuran yang buruk tentu yang tidak mencapai kepuasan.

2.        Utilitarisme

Utilis berarti berguna. Ukuran baik adalah yang berguna. Kalau ukuran ini bagi perorangan disebut individual, jika berlaku bagi masyarakat (negara) disebut sosial.

3.        Vitalisme

Ukuran yang baik adalah yang mencerminkan kekuatan dalam hidup manusia. Kekuatan dan kekuasaan yang menaklukkan orang lain yang lemah, itu ukuran baik manusia yang kuasa itulah manusia yang baik.

4.        Sosialisme

Masyarakat yang menentukan baik-buruknya tindakan manusia yang menjadi anggota yang baik bagi masyarakat, baik pula bagi masyarakat lain.

5.        Religiosme

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk religius. Jadi, beragama merupakan kebutuhan manusia adalah makhluk yang lemah sehingga memerlukan tempat untuk bertopang. Ukuran baik adalah yang baik sesuai dengan kehendak tuhan, sedangkan ukuran yang buruk adalah yang sebaliknya.

 

6.        Humanisme

Ukuran yang baik adalah yang sesuai dengan kodrat manusia yaitu kemanusiaan. Dengan kata lain tindakan yang baik adalah tindakan yang sesuai dengan derajat manusia, tidak mengurangi atau menentang kemanusiaan.

 

Manusia yang beretika (etis) adalah manusia yang bertingkah laku baik, ia bertanggung jawab kepada kata-hatinya, karena selalu memilih menurut petunjuk kata hati, ia pun bertanggung jawab kepada siapapun, ia berkepribadian, satu-satunya pedoman bagi tingkah laku ialah keyakinan bahwa itu baik.

 

G.           Manusia dan Sesamanya

Manusia secara otomatis akan berkembang ke arah kesadaran moral. Moral kesusilaan tak mungkin hanya diajarkan secara teoritis saja, akan tetapi haruslah diajarkan dan bereaksi dengan memberikan contoh-contoh konkrit sehingga dapat menjadi anutan. Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan etika dan beradasarkan kesusilaan untuk mengatur hubungan sosialnya dengan berdasar pada nilai dan norma yang ada dalam masyarakat. Persoalaan kesusilaan selalu berhubungan erat dengan nilai-nilai. Pada hakikatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan susila, serta melaksanakannya sehingga dikatakan manusia sebagai makhluk susila.


DAFTAR PUSTAKA

Ramanto, Muzni. 2014. “Ilmu Sosial dan Budaya Dasar”. Handout. Padang: STKIP PGRI Sumatera Barat.

 

Setiadi, Elly, dkk. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Prenada Media Group.